Bojonegoro | harianmataberita.com- Penanganan kerusakan proyek pelindung tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, dilakukan dengan pendekatan bertahap dan penuh kehati-hatian. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama kontraktor pelaksana memilih mengedepankan aspek keselamatan warga, terutama bagi permukiman yang berada dekat dengan alur sungai.
Kerusakan yang muncul belakangan ini disebut berada pada segmen berbeda dari titik perbaikan sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai sebagai dampak dari dinamika alam Sungai Bengawan Solo yang memiliki karakter tanah labil serta tekanan arus yang berubah-ubah, khususnya saat debit air meningkat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro, Helmi Elisabeth, menyampaikan bahwa proyek pengaman tebing tersebut sejak awal dirancang untuk menghadapi tantangan alam Bengawan Solo. Namun, faktor pergerakan tanah dan kondisi hidrologi ekstrem tetap menjadi variabel yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi.
“Ini wilayah sungai besar dengan dinamika tinggi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana penanganan dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan risiko lanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Helmi menegaskan, proyek senilai sekitar Rp40 miliar itu masih dalam masa pemeliharaan. Dengan demikian, seluruh proses perbaikan menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana dan tidak membebani anggaran daerah.
Sementara itu, pihak kontraktor menjelaskan bahwa langkah awal telah dilakukan untuk mencegah meluasnya kerusakan. Penanganan sementara meliputi pembongkaran terbatas pada segmen yang mengalami kemiringan, serta pengangkatan bronjong guna mengurangi tekanan pada struktur tebing.
Menurut kontraktor, segmen yang menunjukkan gejala sliding akan dibongkar secara selektif sebelum dilakukan pemancangan ulang. Metode tersebut dinilai paling aman dan telah diterapkan pada beberapa titik lain yang sebelumnya mengalami kondisi serupa.
Namun, pendekatan berbeda diterapkan pada area yang berdekatan langsung dengan permukiman warga. Kontraktor menilai, pembongkaran penuh dalam kondisi muka air sungai masih tinggi justru berpotensi memicu longsoran ke arah pemukiman jika terjadi banjir mendadak.
“Di kawasan permukiman, kami tidak bisa bekerja terburu-buru. Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Pembongkaran menyeluruh baru akan dilakukan setelah kondisi sungai lebih aman,” jelas perwakilan kontraktor.
Perbaikan lanjutan direncanakan berlangsung pada tahun 2026, dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan kesiapan infrastruktur pendukung. Salah satu faktor penting adalah jalur mobilisasi alat berat. Pengiriman tiang pancang dan crane akan dilakukan setelah pengecoran jalan desa rampung, agar aktivitas proyek tidak mengganggu atau membahayakan warga.
Saat ini, satu unit excavator masih disiagakan di lokasi untuk keperluan darurat dan pekerjaan ringan sambil menunggu penurunan muka air sungai. Pemerintah daerah bersama kontraktor juga terus melakukan pemantauan rutin guna memastikan tidak terjadi kerusakan lanjutan.
Dengan pendekatan bertahap dan berbasis mitigasi risiko, pemerintah berharap fungsi pelindung tebing Sungai Bengawan Solo dapat kembali optimal serta memberikan rasa aman dan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat di sepanjang bantaran sungai.(TR)