Bangkalan - harianmataberita.com-Tiga komunitas seni di Madura, yakni Sanggar Pancenete, Kasokan, dan Teater Sabit dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), berkolaborasi menggelar pagelaran seni budaya bertajuk pelestarian tradisi Madura. Acara ini menampilkan lagu dolanan Madura, tari tradisional, kidungan sholawat, hingga monolog bertema "Ronggeng Dukuh Paruk".
Pagelaran ini digagas sebagai upaya menghidupkan kembali kesenian Madura yang mulai jarang ditampilkan di ruang publik. Berbagai elemen seni yakni musik, tari, dan teater disatukan dalam satu panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Dalam pagelaran tersebut, penonton disuguhi tiga lagu dolanan khas Madura yakni Nang-Konang, Pung-Apung, dan Soto Madura. Ketiga lagu ini dikenal sebagai lagu rakyat yang biasa dinyanyikan anak-anak Madura secara turun-temurun, namun kini mulai jarang terdengar seiring pergeseran budaya populer.
Komunitas Kasokan turut menyuguhkan penampilan kidungan sholawat khasnya yang berbahasa Madura. Kidungan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena memadukan nilai religius dengan kekhasan bahasa dan lantunan lokal, yang jarang ditemui dalam pertunjukan sholawat pada umumnya.
Selain lagu dolanan dan kidungan sholawat, penampilan tari tradisional Salabaden dari Sanggar Pancenete turut menjadi salah satu sorotan utama. Tarian ini menampilkan gerak khas Madura yang sarat filosofi dan nilai kearifan lokal.
Tak hanya musik dan tari, pagelaran juga diisi monolog teatrikal berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk" yang dibawakan Teater Sabit UTM. Monolog ini diadaptasi untuk menghadirkan pesan reflektif tentang kehidupan, budaya, dan nasib seorang seniman tradisional.
Penasihat pagelaran, Sudiono, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas komunitas ini digagas untuk menggali kembali sebagian budaya Madura yang hampir hilang ditelan zaman.
"Gelaran ini untuk menggali sebagian dari budaya Madura yang hampir hilang ditelan masa," ujar Sudiono.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara sanggar seni, komunitas kasokan, dan kalangan akademisi seperti Teater Sabit UTM diharapkan mampu memperluas jangkauan pelestarian budaya, tidak hanya di kalangan seniman tradisional tetapi juga di lingkungan kampus dan generasi muda.
Pagelaran semacam ini dinilai penting di tengah minimnya ruang ekspresi bagi kesenian tradisional Madura. Banyak lagu dolanan, kidungan, dan tarian daerah yang kini hanya diketahui oleh generasi tua, sementara regenerasi pelaku seni tradisional semakin menurun.
Melalui kolaborasi ini, Sanggar Pancenete, Kasokan, dan Teater Sabit UTM berharap dapat menjadi pemantik bagi tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya Madura. Selain sebagai hiburan, pagelaran ini juga difungsikan sebagai media edukasi budaya bagi masyarakat yang hadir.
Rangkaian acara berlangsung dengan antusiasme penonton yang cukup tinggi, terutama saat penampilan lagu dolanan dan kidungan sholawat yang mengundang nostalgia bagi generasi yang pernah mengenal kesenian tersebut sejak masa kecil. Sementara itu, monolog "Ronggeng Dukuh Paruk" turut memberikan warna berbeda dengan pendekatan teatrikal yang lebih kontemplatif.
Ke depan, kolaborasi lintas komunitas seperti ini diharapkan dapat terus digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Madura yang berkelanjutan.(TR).