Dalam situasi yang makin panas ini, posisi Indonesia menjadi menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sekaligus anggota aktif berbagai forum internasional, Indonesia sebenarnya memiliki ruang diplomasi yang cukup luas. Namun pertanyaannya: apakah peran itu sudah dimanfaatkan secara maksimal?
Konflik yang Memicu Gejolak Global
Data dari International Energy Agency menunjukkan bahwa setiap peningkatan ketegangan di Timur Tengah hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dunia. Pada beberapa periode krisis, harga minyak bahkan sempat melonjak di atas USD 90 per barel.
Kondisi ini berpotensi memukul banyak negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor minyak Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari US$ 30 miliar. Jika konflik Iran–AS terus meningkat, lonjakan harga energi bisa berdampak langsung pada APBN dan inflasi domestik.
Selain sektor energi, jalur perdagangan internasional juga terancam. Selat Hormuz, yang berada dekat wilayah Iran, merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Menurut laporan U.S. Energy Information Administration, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut setiap hari.
Jika jalur itu terganggu, dampaknya bisa menjalar ke seluruh dunia.
Posisi Indonesia: Netral Tapi Strategis
Secara politik luar negeri, Indonesia menganut prinsip bebas dan aktif. Artinya, Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu, namun tetap aktif mendorong perdamaian dunia.
Dalam konteks konflik Iran–Amerika, Indonesia memiliki beberapa modal diplomasi. Pertama, hubungan diplomatik Indonesia dengan Iran relatif baik. Kedua, Indonesia juga memiliki kerja sama strategis dengan Amerika Serikat di berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga keamanan.
Menurut data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat pada 2024 mencapai lebih dari US$ 38 miliar. Sementara dengan Iran, meski lebih kecil, kerja sama ekonomi terus berkembang terutama di sektor energi dan produk halal.
Posisi ini membuat Indonesia berpotensi menjadi jembatan komunikasi di tengah ketegangan.
Diplomasi yang Dinilai Terlalu Sunyi
Namun sejumlah pengamat menilai langkah Indonesia masih belum terlihat signifikan di panggung global. Dalam banyak krisis internasional, Indonesia kerap mengambil posisi normatif: menyerukan perdamaian tanpa inisiatif konkret yang kuat.
Padahal sejarah mencatat Indonesia pernah memainkan peran besar dalam diplomasi internasional. Salah satu contohnya adalah Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menjadikan Indonesia pusat gerakan negara berkembang.
Melalui forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia sebenarnya bisa mendorong dialog yang lebih aktif antara negara-negara terkait.
Pengamat hubungan internasional bahkan menilai, jika Indonesia berani mengambil inisiatif mediasi, posisi diplomatiknya di tingkat global bisa meningkat secara signifikan.
Dampak Langsung ke Dalam Negeri
Ketegangan Iran–AS juga berpotensi memberi dampak langsung ke Indonesia. Selain kenaikan harga minyak, fluktuasi ekonomi global dapat memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia dalam beberapa laporan ekonomi menyebutkan bahwa konflik geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar global. Investor cenderung menarik dana dari negara berkembang ketika risiko meningkat.
Jika situasi memanas, sektor transportasi, logistik, dan industri berbasis energi di Indonesia bisa terkena imbasnya.
Saatnya Indonesia Lebih Aktif?
Di tengah konflik yang berpotensi meluas, dunia membutuhkan lebih banyak suara penyeimbang. Indonesia, dengan tradisi diplomasi damai dan posisi geopolitik yang netral, sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk memainkan peran tersebut.
Namun peluang itu tidak akan berarti tanpa langkah konkret.
Apakah Indonesia akan tetap memilih jalur diplomasi senyap, atau justru tampil sebagai mediator yang berani di tengah panasnya konflik Iran dan Amerika?
Pertanyaan itu kini menggantung di panggung geopolitik dunia. Dan jawabannya bisa menentukan seberapa besar peran Indonesia dalam menjaga stabilitas global.
(kurnia agus H: Pengamat Muda Geopolitik / kepala Medkom AMI)